Because of Quarantine

Selamat sore penduduk bumi yang sedang menanti antivirus Covid-19 (si virus baru)

Hari ini, 21 Maret 2020 adalah hari ke enam program social distancing (ada juga yang nyebut isolasi diri, liburan sekolah, atau liburan corona). Semua orang harus stay di kediaman masing-masing, kuliah di kelas ditiadakan, diganti kelas online.  Tadi siang jam 11 telah berakhir kuliah online buat minggu ini. Gara-gara program ini aku jadi niat banget pengen lanjutin nulis blog setelah 2 tahun (ampun, pengen istiqomah nulis blog). Rasanya tuh pengen recap apa yang udah terjadi selama dua tahun ini. Yes, many things happened since i graduated from S1 termasuk kuliah profesi psikolog. Banyak banget hikmah yang aku dapetin selepas wis udah, one of them is pentingnya nguatin skill  kamu (nguatin kaki kamu) sebelum kamu nerima ijazah S1.

Agustus 2018, aku lulus tapi, ijazah keluar 2 bulan kemudian. Dilema banget karena ngga bisa ngelamar kerja di tempat yang aku pengenin. Pas ijasah udah keluar, eeh malah dipake buat audisi ASN, trus gagal lagi di tahap kedua. Do this, do that tapi nggak ada yang ngena'. Tiba-tiba ada bisikan "daftar s2 aja ka". Daftar lah aku untuk kelas semester genap di kampus yang aku incar, tapi gagal lanjut gara-gara kejauhan kalo kata orang tua. Daftar lagi di kampus lain, tapi gagal lanjut karna kampusnya luar negeri (swasta) kata orang tua. Demi mengejar ridho akhirnya coba di UA (kampus raja), ortu sangat setuju kalo disini, padahal aku pengen di kampus yang ada gajahnya itu (tau kan). Akhirnya daftar, test, lulus, bayar. Pas masuk di semester ganjil, beeeuh rasanya ingin sambat, ngeluh, diam sampe kehabisan kata. Temen-temen seangkatan jago-jago cuy, dosen-dosennya top of quality dah. Tugasnya ? kalo ini di semua kampus hampir sama ya, sama-sama suruh kita kerja dan muter otak. Kasusku, tugas kuliah  mengharuskan ke lapangan ketemu masalah directly dari lokasi kejadian 

Ketika di lapangan, pandangan orang tentang mahasiswa S2 uda nggak kayak mahasiswa S1 yang masih belajar. Orang akan nganggap kamu pinter, paham masalah, lebih profesional, bahkan kata-katamu bisa dianggap sebagai petuah . Bagi beberapa orang (mungkin aku termasuk), aktifitas belajar di sekolah bukanlah aktifitas yang menyenangkan bahkan prosesnya  bikin trauma (i wanna  talk about it later). So, orang yang lanjut sekolah apalagi sampe S2 dianggap punya komitmen dalam menggali sumur ilmu. S2 itu adalah tingkat pendidikan yang tinggi, jadi wajar citizen dan netizen beranggapan seperti itu. Konsekuensinya, kita nggak bisa melanjutkan beberapa tradisi ketika S1 dulu seperti menjadikan buku kuliah sebagai dekorasi kamar saja, kerja kelompok (kamu bagian ngeprint),  baca jurnal (kalo disuruh doang, itupun jurnal indo, yang dibaca bagian abstrak sama kesimpulan), nanya yang nggak penting dan spele ke dosen (nanya boleh, cuman, yuk belajar buat pertanyaan berbobot), percaya atau mengatakan info yang nggak jelas asal usulnya. Itu aja dulu ya 

Kenapa?

Begitu masuk kuliah S2, lingkungan dan suasana belajarnya berbeda. Sama seperti peralihan antara SMA dengan S1. Teman sekelasmu lebih terbatas, dan di antara mereka pasti ada yang memiliki pengalaman di bidang yang kam ambil. Quantity yang sedikit memungkinkan diskusi yang lebih efektif dan dosen jadi lebih paham kemampuan masing-masing mahasiswa. Komposisi belajar di S2 lebih banyak ditentuin sama mahasiswanya sendiri, udah nggk terlalu disetir sama dosen. Materi yang disampein di kelas cuman kulitnya aja itupun cuman sebentar, isinya kita dalami sendiri dari buku atau jurnal (jangan males baca terutanya yang Inggris, yok bisa yok).  Dosen fungsinya sebagai evaluator atau supervisor (bener nggak pemahaman kamu). Jujur aja sih, intensitas membaca literasi akademiku sangat rendah dan itu berdampak pada penggarapan tugas yang nggk maksimal (atau nggk mencapai standar).

Selain itu, turun ke lapangan adalah agenda wajib di setiap mata kuliah (in my case). Nah, ketika turun di lapangan, semua harus sistematis dan terencana sampe topik yang harus kita bicarakan nggk boleh jauh dari tujuan kita.  Kita juga harus pandai-pandai membangun rapport (membangun hubungan yang baik) sama informan sesuai etika. Membangun rapport itu susah susah gampang, tergantung karakteristik individunya. Makanya skill ini tuh penting banget buat dikuasai. Ketika di S1 mungkin kita akan diajarkan terkait teknis - teknis ketika berhadapan dengan informan, tapi ketika S2 masalah teknis seperti itu diserahkan ke mahasiswa sendiri (dianggap udah bisa).
    
Setelah turun ke lapangan, garap paper atau laporan hasil (laporan pertanggung jawaban) dalam tempo yang beberapa hari. Tantangannya disini adalah mengenai time managemen. Laporannya itu memang kayak skripsi tapi harus selesai dalam waktu beberapa hari. Kalau nggak selesai berarti kurang responsible jatuhnya. Makanya harus pinter bagi-bagi waktu antara baca literasi, garap tugas, turun ke lapangan, dan waku buat kamu. Ohya baca disini nggk sekedar baca terus copas ya, tapi di kritisi,  ditimbang baik buruknya, sesuai nggak dengan konteks permasalahan kita. At the end, kamu harus mempertanggungjawabkan hasil tulisan itu dihadapan teman-teman dan penguji-penguji yang mulia (biasanya pengujinya lebih dari satu kayak skripsi). Itulah yang terjadi sebelum kita revisi, baca lagi, garap lagi, pusing lagi dan lagi, eeh tiba-tiba keluar nilai (jreng-jreng). 

Nyatanya, kita mungkin salah kalo lari ke S2 setelah kita bingung mau ngapain setelah lulus S1. Hanya karena kamu nggak dapet kerja, terus kamu pilih lanjutin kuliah aja. Nggak segampang itu wati (pikir-pikir dulu deh). Kuliah S2 juga harus ada skillnya, ketahanan dan komitmen kamu juga harus kuat sama seperti bekerja. S2 itu menuntut kamu menjadi seorang yang lebih profesional dan mampu menjawab tantangan di masyarakat. Dunia S2 nggak jauh beda sama dunia kerja kan. Bedanya kalo kuliah kamu nggak dapet gaji (mending kerja kan atau cari beasiswa). Pokoknya jangan pernah berhenti belajar hal-hal baru walaupun harus dari nol, kapanpun. 


Comments

Popular posts from this blog

Second change in every second.

Because of Quarantine #2

Hujan #1