Because of Quarantine #2
Selamat malam warga dunia yang mulai cemas di rumah.
Social Distancing sedang berlangsung dan aktifitas di luar rumah jadi terbatas (sangat terbatas). Semua harus stay dan bekerja di rumah masing-masing. Ini adalah momen bersejarah karena baru terjadi di kehidupanku. Belum pernah ada kejadian yang membuat hal seperti ini. Sampai saat ini kebijakan self-distancing atau work from home belum bisa dipastikan sampai kapan mengingat korban COVID-19 semakin bertambah, per hari ini sudah ada 579 kasus dengan 49 orang meninggal (Alhamdulillah 30 orang sudah sembuh). Di Surabaya, awalnya libur sekolah hanya seminggu sekarang ditambah sampai 2 minggu. Psstt Surabaya sudah masuk zona merah. Kita selalu berdoa agar invisible trouble maker a.k.a Covid-19 ini bisa ditemukan penawarnya.
what do we do s far?
8 hari social distancing telah mengubah fungsi bangunan rumah. Kita yang terbiasa melakukan aktifitas di luar di rumah selama 5 atau 6 hari, eeeh seminggu ini wajib kerja di rumah. Kalau biasanya rumah dijadikan tempat untuk istirahat atau kumpul sama keluarga, social distancing menyulap rumah sebagai sekolah dan kantor, bahkan toko. Anak-anak mengerjakan tugas dari sekolah di rumah, katanya sih tugasnya buwanyak. Anak sekolahan juga harus nyetok kuota buat ngerjain quiz atau belajar online. Thanks to mama papa karena udah alokasikan uang jajan ke kuota internet (jarang-jarang kan). Beberapa orang tua juga diamanahkan untuk menggantikan posisi guru mereka di sekolah. Ini harus disambut baik karena bisa meningkatkan bonding antara orang tua dan anak. Orang tua mungkin jadi tau sikap anak ketika belajar kayak gimana, atau merasakan riwehnya melaksanakan tugas sekolah. Well, paling tidak orang tua bisa merasakan struggle nya seorang guru di kelas (jadi guru nggak gampang yes, makanya jangan salahin bapak ibu guru terus). Apakah anak-anak menyambut dengan senang gempita belajar di rumah ? Sayangnya tidak. Awalnya, program belajar dari rumah dianggap baik oleh murid-murid (beberapa ada yang liburan), tapi realita telah menyadarkan mereka bahwa belajar di sekolah lebih menyenangkan. Belajar di rumah dikhawatirkan mengganggu pengeluaran uang saku dan merasa suntuk mengerjakan tugas, mungkin karena bawaannya pengen rebahan kalo di rumah. Mereka mulai kangen sama guru mereka (meskipun cerewet), kangen suasana kelas, kangen perjalanan ke sekolah, kangen maen sama temen, atau kangen bel keluar masuk. Di Indonesia, belajar di rumah atau online study bukan hal yang umum dilakukan. Kalau online entertainment sih no 1 sih.
Bicara masalah online-online an. Sekarang orang yang basicly bekerja di indor memilih untuk work from home via video call/conference kalau mau meeting atau presesntasi. Tugas-tugas yang biasanya dikerjain di tempat kerja mau nggak mau dikerjain di rumah, sandingan sama tugas keluarga. Pokoknya sebisa mungkin meminimalisir kontak dengan orang lain dan menghindari menghadiri perkumpulan atau keramaian. Konsekuensinya, banyak event-event antara bulan Maret-April di tunda atau di batalkan. Syuting aja nggak boleh. Ironisnya, pekerja yang hidup jalanan jadi sepi orderan. Ojol, buruh, dan pedagang kecil banyak yang rugi karena sumber pendapatan utama mereka tiba-tiba harus dirumahkan. Di satu sisi mereka beresiko terkena paparan virus, disisi lain keberlangungan hidup keluarga mereka juga tidak kalah penting. Kemiskinan itu juga virus yang mematikan (secara perlahan dan lebih menyakitkan). Alhamdulillah pemerintah Republik Indonesia sudah mempertimbangkan dampak tersebut, sehingga mereka masih dapat bekerja sebagaimana biasanya. Alhamdulillah lagi, warga yang bekerja di rumah masih bisa bantu mereka yang bekerja di jalan. Mereka membantunya dengan memesan makanan dan menggalang dana untuk memberikan perlengkapan safety agar mereka terhindar dari virus. Di instagram lagi viral aksi kayak gitu.
Kalo aku ngapain selama ini di kos?
Aku kuliah online, nonton film box office yang belum sempat di tonton, research grup musik yang kece (baru tau Barasuara keren banget), nyicil tugas kuliah (little by little), itungin jumah penderita corona, youtube. Selama self distancing aku jadi rajin nyuci baju karena biasanya bawa ke tukang laundry, setiap hari VC sama keluarga, setiap hari beli sarapan (sekalian jalan-jalan dan ketemu sinar matahari), dan nulis blog. Jarang kan nulis dengan waktu yang berdekatan. Aku nggak terlalu bermasalah dengan program distancing ini, till now I enjoying my life mungkin karena aku sudah terlatih seumur hidup ku. See you
Comments
Post a Comment