MENJADI SENDIRI (BEING LONELY)

Ketika saya merantau.

Sebagai anak rumahan yang senior,  saya nggak pernah tuh ngerasa sendirian banget. Soalnya di sekitar rumah ada tetangga yang bisa disamperin, ada tamu yang berkunjung, ada sepupu yang main ke rumah, dan yang penting hiburan dan makanan terjamin tersedia cuy. Lebih seneng lagi karena HP  dan paketan internet bukan hal penting kalau sudah di rumah (Ini seriusan). Nggk penting bukan berarti diabaikan ya.

Kemudian Agustus 2013 saya harus kuliah di Malang (Terimakasih ya Allah). Tunggu, saya belom bilang kalo saya asli Lombok. INFO! Lombok itu pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), surgawanya para wisatawan lokal maupun internasional, dan tujuan liburan dan honeymoon buat kamu (promosi wisatanya nanti aja coy). Perjalanan Lombok - Malang itu kalau pake pesawat  makan waktu 1 jam ke Surabaya + 2 jam ke Malang (kalau nggak macet). Pake Bis atau kapal laut pejalanannya bisa  1 harian. Ok, tibalah di Malang. Saya yang nggak pernah keluar gua sebelumnya tiba-tiba harus tinggal di Malang, sendirian. 

Waktu itu karena masih cemen dan belum berpengetauan, Bapak sendiri yang nganter sambil jadi Tour Guide di kota Malang. Setelah bapak pulang jeng jeng jeng....................................................
.
Senengnya masya Alloh. Dalam hati berkata:

"Alhamdulillah, akhirnya bisa keluar kandang" (Fool yeah)
"Yeay, Nggak ada Bapak sama Mama yang ngomelin" (Faktanya tetep bisa selama ada HP dan internet)
"Whuaa, bentar lagi bisa ngomong Jawa " (less practice means nothing)
"Bebassssssss yeaaaayyy" (truely happiness)

Saya nggak berperasaan banget waktu itu. Saya seneng banget jadi anak rantau, sementara Mama nangis dirumah, dan Bapak khawatir sama pergaulan anak tertuanya di Malang. Harusnya kan saya sedih, ya saya sedih sih tapi banyakan senengnya. Gimana nggak seneng, di Malang kuliah di kampus yang integrasinya dengan agama Islam OK banget, punya asrama mahasiswa (Ma'had Sunan Ampel Al-Ali) yang isinya dari berbagai daerah di Indonesia dan ada mahasiswa dari mancanegara. Malang juga sejuk, adem, dan suasana di sini cocok dah buat pelajar. Disini juga banyak dijumpai motor plat DR (Lombok) ya cuyy.

Tibalah perkuliahan dimulai, transisi menuju kemandirian. Tanggung jawab ada dipundakmu sendiri, nggak ada wali kelas yang bakal mem-back up nilai kamu kalau nilai kamu jelek. Belajar nggak belajar terserah, ngerjain nggak ngerjain tugas terserah, nggak masuk sampe tiga kali terserah. Pokoknya kuliah itu nggak terlalu banyak aturan, tapi pilihan mu sendiri punya konsekuensi yang harus dibayar di kemudian hari (olehmu sendiri). Orang tua mungkin akan menyuruhmu  melakukan ini dan itu biar berhasil, tapi kamu yang menentukan akan melakukan apa. 

Saya memilih jadi orang yang  suka kerja sendiri secara diam-diam (worker in silence), bisa juga dalam team (tapi lebih suka jadi anggota team work). Bersyukurnya saya bisa mengerjakan tugas kuliah sendiri (yang tugas individual ya) karena nggak suka dan nggak perlu ngerepotin orang lain buat copas (I love my original handmade, walaupun nggak wah banget). Temen-temen bakal bilang saya keliatan nggak ngerjain tugas, diem aja dipojokan sama laptop, eeh terus tiba-tiba nyanyi sendiri. Itu kamuflase aja gaes, sebenernya lagi menghindar dari keramaian dan lagi mancing ide, sayapun dengerin musik biar nggak ngantuk dan nggak bete. Kalau hasil kerja saya ternyata sukses dan bagus, that's my noise from working. Nggak cuma dalam tugas kuliah saya ngerjain sendiri, kalo mau belanja ya kadang sendirian. Yaa, emang pada dasarnya saya nggak suka ngerepotin orang, lebih suka direpotin (katanya sih golongan darah O  emang kayak gitu, isn' it?). 

Terbiasa sendiri bukan berarti kamu bisa mandiri  atau strong sepenuhnya, ya kan?
Manusia juga makhluk sosialis yang membutuhkan orang lain. Benar  cuy,  karena pada saat-saat tertentu saya benar-benar merasa kesendirian itu bagai bau busuk. Ini saya alami ketika sakit fisik dan sakit Psikis. Setela manjadi anak rantau, masalah lebih rumit. Ketika sakit di tanah rantau, banyak teman-teman yang akan mengurusi tapi seketika ingat baiknya mama dan bapak merawat saya kalau sakit. Saat itu rasanya ingin datangkan mereka ke Malang, tapi disatu sisi saya nggak ingin mereka khawatir kalau mendengar kabar saya sakit. Ada juga saat dimana saya kehabisan uang jajan, tapi sungkan minta uang ke orang tua atau minjem uang temen. Dan juga ketika saya mendapatkan nilai matakuliah yang menyedihkan, what should i say to my parents? Frustasi, takut, dan bingung bisa menguasai badan saya tuh. 

Sendiri bukan solusi bagi saya jika berada di kesempatan pahit itu gaes. Dalam hati saya akan memanggil nama teman-teman, memanggil bapak dan mama, memohon sama Allah. Terus suka muncul pikiran - pikiran negatif (suudzhon) kayak gini:

"Gimana kalau aku mati disini?" (ini Over banget)
"Duh pasti aku diejek nanti''
''Pasti aku dimarah nanti''
''How unlucky i am"
''Mau ditaruh dimana muka saya?''

kemudian keadaan jiwamu tambah teguncang menuju fase stress. I hate this part!
Perilakumu yang aslinya kayak ketua OSIS tiba-tiba mulai berubah 90 derajat (aja dulu). Seperti saat itu saya jadi banyak tidur, males bangun pagi, males mandi, males ngerjain tugas, sampe benci orang tanpa alasan yang  jelas. Dapet hiburan tapi malah merasa tak terhibur. Sok kuat sendiri, tapi malah tambah lemas jiwa ini. Sok malu minta bantuan  teman, tapi akhirnya menderita sendiri. Konyol banget kan? udah sedih malah tambah menderita, kapan bahagiaya ya kan?

Apakah saya gengsi untuk minta bantuan atau sekedar cerita tentang masalah saya? IYA
Apakah saya terlalu percaya diri bisa mengatasi masalah seorang diri tanpa bantuan orang lain? IYA, in wrong way

Jangan gengsi!
Jangan malu cerita!

Saat kita sedang down, cemas, dan frustasi saranku jangan sampai kamu sendirian apalagi meringkuk dipojokan! BAHAYA! NGERI! HOROR!

Yuk, coba samperin temen-temenmu, ikut becanda sama mereka. Tampilin sedikit senyum (walau palsu) ikut bahagia, tujuannya selain untuk meringankan beban, juga supaya temenmu bertanya-tanya 
"kok kamu kayak gitu?"
terus  temanmu bakal mencari tahu dan  membantu menyelesaikan masalahmu deh (Pengalaman Pribadi)

Yuk, coba  ambil air wudhu terus curhat sama Allah terus baca al-Qur'an.  Feel better tho. 

Oh ya, kalau orang tuamu telpon jangan di biarin jadi Missed call ya. Mereka itu kangen banget sama kamu, mereka itu khawatir sampe kamu bilang mereka marah sama kamu (Actually they are not). Kalau sedang menghadapi masalah atau ujian, mintalah do'a orang tua. Mendengar orang tua mengamini do'a anak itu seperti air yang melegakan tenggorokan. Jangan pas minta uang aja baru telpon orang tua, balas lah dengan memberikan kabar baik Okay. 
 
Sebagai anak rantau di Malang selama 4 tahun, saya bersyukur dapat banyak pelajaran hidup terutama cara agar bisa survive. Sebagian besar saya dapat dari orang lain sih, saya copy bagaimana cara para surviver bisa survive. Alhamdulillah, di Malang ini banyak orang Lombok yang bisa jadi obat homesick, mereka itu semeton tiang . 





 








 
 


Comments

Popular posts from this blog

Second change in every second.

Because of Quarantine #2

Hujan #1